Loading...

Pelabuhan Sastra Batch#1 Cerpen

RINDU YANG TAK BERUJUNG
Penulis: simelankolis

Namanya Mawar.

Sudah duapuluh tahun ia tinggal di panti asuhan di kota Bandung. Ibu dan ayahnya meninggal pada sebuah kecelakaan. Ia bahkan tidak tahu apakah ia termasuk anak yang beruntung atau justru tidak, sebab ia kini harus hidup sebatang kara. Di panti itu, ia bertemu teman-teman dengan berbagai latar belakang kehidupan. Kebanyakan dari mereka adalah
anak yang ditinggalkan secara sengaja oleh orang tuanya.

Hobinya sejak dulu adalah menangis di ayunan yang ada di halaman panti sambil menikmati rintik hujan. Rindunya pada ibu dan ayahnya memang takkan pernah lunas terbayar, tapi setidaknya ia merasa sedikit lega. Ia biarkan hujan menyapu air matanya hingga tak ada yang tahu bahwa ia sedang menangis.

Seminggu lagi adalah ulang tahunnya yang ke-21. Ia tidak tahu kejutan apa yang akan Tuhan kirim untuknya.

“Ray, bangunlah. Kini waktunya kamu melanjutkan hidup. Tugasku menjawab lima pertanyaan terbesarmu sudah tuntas.”

Mata Ray terbuka perlahan. Jari-jarinya bergerak. Seorang suster yang sejak dua jam lalu memperhatikannya segera memanggil dokter.

Tiga bulan sudah ia berbaring di kasur itu. Dalam mimpinya, ia bertemu orang dengan wajah menyenangkan yang menjelaskan banyak hal tentang hidupnya. Kini ia terbangun dengan penjelasan yang memenuhi pikirannya.

Ia siap melanjutkan hidup.

“Selamat ulang tahun, Mawar.” Kak Amel, pengasuh panti asuhan, menghampiri Mawar yang tengah menyendiri di ayunan halaman panti. Rinai tersenyum.

“Terima kasih, Kak.” Mawar menyahut. “Kak, di ulang tahun kali ini, bolehkah aku meminta sesuatu?” Mawar bertanya. Matanya yang bulat tampak lebih berbinar.

“Tentu. Ini hari istimewa untukmu. Apa yang bisa aku lakukan, Mawar?”

“Aku ingin berkunjung ke makam ibu dan ayah, bolehkah?” Mawar mendongakan kepalanya pada Kak Amel yang tengah berdiri di hadapannya.

Kak Amel terdiam. Ia tahu, mengantar Mawar menjenguk ayah dan ibunya bukanlah perkara sulit. Hanya saja, ia juga tahu, hal itu bukanlah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk Mawar. Selama duapuluh tahun di panti, Mawar menjadi anak yang paling pemurung. Ia benar-benar
tidak bisa melupakan ayah dan ibunya.

“Mawar, perpisahan ada bukan untuk diratapi. Ia justru menjadi guru agar kita semakin dewasa. Kamu sebaiknya—”

“Aku tahu, Kak. Terakhir aku berkujung ke makam ayah dan ibu adalah saat ulang tahunku yang kesepuluh. Kurasa selama duapuluh tahun aku sudah cukup dewasa untuk tak merengek setiap hari karena rindu. Selama ini aku juga menabung, kakak tak perlu khawatir memikirkan ongkos untuk ke Jakarta.” Mawar memotong. Kak Amel terdiam.

“Baiklah, lima hari lagi, kakak antar Mawar ke Jakarta. Siapkan barang-barangmu.” Kak Amel mengalah. Mata bulat dan bersinar milik Mawar selalu membuatnya luluh. Mawar segera berlari ke kamarnya, menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke Jakarta. Ia memecahkan celengannya. Surat-surat yang ia tulis sepanjang duapuluh tahun terakhir untuk ayah dan ibunya juga ia kemasi. Ia akan bawa semuanya. Ia ingin membacakan delapan belas surat itu di hadapan pusara ayah dan ibunya.

Lima hari baginya akan terasa seperti satu bulan. Ia sangat tidak sabar untuk membacakan
surat-surat itu.

“Dokter…” Ray memanggil. Suaranya hampir tak terdengar. “Bagaimana… keadaanku? Apa… aku… sudah… boleh… pulang…?’ lanjutnya dengan terbata-bata.

“Keadaanmu baik, Tuan. Hanya saja kau perlu lebih banyak istirahat. Tiga hari lagi mungkin kau sudah bisa pulang.”

Ray terdiam. Dalam pikirannya, ia ingin mengunjungi banyak tempat. Pusara Diar, pusara “si gigi kelinci” kesayangannya, serta pusara keluarga itu. Keluarga yang tak sengaja ia tabrak malam itu. Ia bertekad akan mengunjungi pusara keluarga itu selepas ia pulang nanti.

Anak itu… anak perempuan tak berdosa itu, di mana dia sekarang?
Untuk kesekiankalinya, Ray merasa terkungkung oleh bayangan kelam masa lalunya.
Ia telah mendapat kesempatan kedua.
Ia akan menuntaskan urusannya.

Mawar membersihkan pusara ibu dan ayahnya yang bersebelahan.
Ia menangis, tapi kali ini adalah tangisan bahagia; memanen rindu yang selama ini ia tanam dan ia siram dengan air mata kesedihan.
Ia membuka tasnya, mengeluarkan delapan belas surat yang ia bawa.

“Kak, mungkin kali ini aku akan lebih lama di sini. Ada delapan belas surat yang akan kubaca untuk ayah dan ibu.” Mawar mulai membuka surat-suratnya.

“Tidak masalah, adikku sayang. Kedatangan kita ke sini adalah kado untukmu. Nikmatilah, luapkanlah rindu itu.” Kak Amel mengusap kepala Rinai dengan lembut.

Mawar tersenyum. Ia mulai membuka surat yang pertama.
“Ibu, ayah…
Seseorang di dalam buku yang kubaca suatu saat berkata, bahwa meninggalkan akan jauh lebih mudah daripada ditinggalkan. Sebab dengan meninggalkan, kita akan mendapat kehidupan baru yang mungkin lebih
menyenangkan.

Ibu, ayah…
Sampai saat ini aku masih belum tahu, siapa di antara kita yang sesungguhnya meninggalkan
dan siapa yang sesungguhnya ditinggalkan.

Tapi, kalaupun memang yang meninggalkan itu adalah aku, sebab saat kecelakaan itu aku ditakdirkan untuk tetap hidup, aku tidak sependapat dengan seseorang di dalam buku itu, Bu, Yah.

Nyatanya kehidupanku tak lebih baik dibanding kehidupanku bersamamu.
Ibu, ayah…
Aku ingin di antara kita tak ada yang meninggalkan, juga tak ada yang ditinggalkan.
Keduanya memang pilihan yang harus dipilih salah satunya.
Tapi, jika aku tak mau memilih, apakah itu sebuah kesalahan?”
Rinai membuka surat-surat selanjutnya.
Ia telah sampai pada surat yang terakhir.

“Ibu, ayah…
Suatu hari jika aku bertemu Tuhan, akan kuceritakan kisah hidupku di sini yang amat sepi tanpa ibu dan ayah.
Akan kusampaikan kalau setiap detik dalam hidupku diisi dengan merapal nama ayah dan ibu.
Akan kukisahkan mimpi-mimpi pertemuan yang selalu hadir di tiap malamku.

Ibu, ayah…
Begitupun jika aku bertemu seseorang yang jadi perantara terciptanya jarak kita…
Aku ingin kisahkan hal yang sama, agar ia tahu bagaimana rasanya sepi, bagaimana rasanya berkawan dengan kesedihan.

Ibu, ayah…
Aku berjanji akan terus menyebut namamu dalam doa yang kuterbangkan ke langit.
Semoga penduduk langit mengamini.
Aku mencintaimu sejak dulu, sekarang, hingga entah kapan.
Aku mencintamu, Ibu, Ayah.
Selalu.”

Surat-surat itu basah. Tintanya pudar oleh rintikan air mata Mawar.
Mawar melipat kembali surat-surat itu, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Ia sudah lega.
Ia sudah siap untuk kembali ke panti.

Ray melihat seorang gadis sedang membacakan surat di hadapan dua pusara. Samar-samar, ia mendengar kata-kata yang dilontarkan gadis itu.

“…Ibu, ayah…
Begitupun jika aku bertemu seseorang yang jadi perantara terciptanya jarak kita…
Aku ingin kisahkan hal yang sama, agar ia tahu bagaimana rasanya sepi, bagaimana rasanya berkawan dengan kesedihan…”

Ray merasakan sesak di dadanya.
Ia ambruk untuk kesekian kalinya.
Kali ini, kali penghabisan. Tak ada lagi kesempatan yang ia dapat.

Malaikat ternyata lebih cepat menuntaskan semuanya.
Waktu untuk Ray telah terhenti, bahkan sebelum Ray menuntaskan sendiri urusannya.

boohoo , Womens & Mens Clothes , Shop Online Fashion | nike air max modern essential burgundy women shoes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *