Loading...

[Esai KOSIGNAL 2020] Optimalisasi Peran Penting Orang Tua Ala Ki Hadjar Dewantara Melalui Permainan “Tempatkan Aku” Guna Menstimulasi Perkembangan Kognitif Anak Usia Pra Sekolah

oleh: Hengki Tri Hidayatullah dan Meytikasari Dwijayanti (Universitas Negeri Malang)

Kategori Penghargaan: JUARA I


Pengantar

Anak memiliki suatu ciri khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak saat konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal inilah yang membedakan anak dari orang dewasa. Pertumbuhan (growth) adalah bertambahnya jumlah dan besarnya kuantitas atau volume sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur. Perkembangan (development) adalah meningkatnya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui kematangan dan belajar (Hidayat, 2005). Perkembangan anak dapat terjadi mulai dari aspek sosial, emosional, dan intelektual yang berkembang pesat saat anak memasuki usia prasekolah (3-6 tahun) dan bisa disebut dengan istilah usia emas (golden age).

Masa prasekolah adalah masa dimana kognitif anak mulai menunjukkan perkembangan dan anak telah mempersiapkan diri untuk memasuki sekolah (Hidayat, 2005). Tiga konsep yang dikembangkan dalam teori Vygotsky (Tappan, 1998) : 1) Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila di analisis dan pahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental; 2) kemampuan kognitif yang dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat spikologis untuk membantu dan mentransformasikan aktivitas mental; dan 3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Dalam teori tersebut menjadi sorotan kognitif yang harus dilatihkan kepada anak, agar nantinya tumbuh kembang pada ranah kognisi dapat berjalan dengan baik.

Pengalaman belajar yang diperlukan usia prasekolah  diantaranya  mengenal warna, mengerti kata sifat, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana, dan mengenal bentuk suatu objek (Utami, 2009). Kemampuan lain seperti mengelompokkan, mengamati, menganggap, dan membayangkan hal-hal yang lebih abstrak juga  berkembang.  Kemampuan tersebut seharusnya sudah dapat dicapai oleh anak prasekolah. Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulasi terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang (Soetjiningsih, 1996). Menstimulasi anak usia prasekolah dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan permainan.

Namun realitanya tidak semua orang tua bisa memberikan stimulan yang baik bagi anak, kebanyakan orang tua sering memberikan perintah dan juga tidak mengapresiasi anak ketika melakukannya (Verdinata, 2019). Hal tersebut tentu akan mempengaruhi perkembangan kognitif anak karena tidak terasah dengan baik. Padahal keluarga adalah sebagai kelompok inti, sebab keluarga adalah masyarakat pendidikan pertama dan bersifat alamiah. Dalam keluarga, anak dipersiapkan untuk menjalani tingkatan-tingkatan perkembangannya sebagai  bekal ketika memasuki dunia orang dewasa, bahasa, adat istiadat dan seluruh isi kebudayaan, seharusnya menjadi tugas yang dikerjakan keluarga dan masyarakat di dalam mempertahankan kehidupan (Irma, Nisa, & Sururiyah, 2019). Dalam ranah pendidikan orang tua atau pendidikan informal orang tua dapat memanfaatkan nilai-nilai berbasis kearifan lokal khas nusantara yang di populerkan oleh Ki Hadjar Dewanta.

Saleh (2020) menjelaskan bahwa Ki Hadjar Dewantara yang sering dijuluki sebagai bapak pendidikan Indonesia ini merintis tentang tri pusat pendidikan, yang menyebutkan bahwa wilayah pendidikan guna membangun kontruksi fisik, mental, dan spiritual yang handal dan tangguh dimulai dari lingkungan keluarga (informal), lingkungan sekolah (formal) dan lingkungan masyarakat (non formal). Dari ketiga wilayah pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara tersebut pendidikan informal merupakan pendidikan paling awal yang di terima oleh anak, karena pendidikan informal merupakan pendidikan yang anak dapat dari orang tua dalam keluarganya. Sistem among merupakan salah satu konsep yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Sistem among merupakan suatu sistem pendidikan yang dapat diterapkan saat ini karena merupakan sebuah sistem pendidikan dan pembelajaran yang lengkap dan komprehensif, baik teknis maupun filosofis (Wangid, 2009). Peran orangtua dalam membentuk pendidikan informal dalam lingkup keluarga ini ditekankan pada esensi ranah kognitif anak. Permainan menjadi jurus paling ampuh untuk menerapkan sistem among kepada anak-anak. Berdasarkan pemaparan diatas maka penulis mencetuskan gagasan berupa Optimalisasi Peran Penting Orang Tua ala Ki Hadjar Dewantara Melalui Permaianan “Tempatkan Aku” Guna Menstimulasi Perkembangan Kognitif Anak Usia Pra Sekolah. Gagasan tersebut mengangkat konsep yang perlu diterapkan oleh orang tua dalam melakukan pendidikan informal pada anak menggunakan sistem among, dalam pelaksanaanya orang tua di bantu dengan media permainan bernama “Tempatkan Aku”. Media permainan tersebut berbentuk papan karakter huruf, angka, dan warna, serta dilengkapi dengan buku panduan dan kartu ketepatan, sehingga diharapkan mampu memberikan stimulus pada kognitif anak yang mana peran orangtua menjadi kuncinya.

Isi

Konsep Dasar Sistem Among Dalam Menstimulasi Kognitif Anak

Vygotsky berpendapat bahwa pada masa kanak-kanak awal (pra sekolah), bahasa mulai digunakan sebagai alat yang membantu anak untuk merancang aktivitas dan memecahkan problem. Dalam penerapan sistem among yang dikemas dan disesuaikan dengan kebutuhan kognitif anak ini diatur untuk melibatkan peran orangtua sebagai penunjang utama. Konsep sistem among tergambar pada pitutur mansyur yaitu ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tuladha, tut wuri handayani. Peran orangtua di depan menjadi panutan atau contoh, di tengah memberikan bimbingan, dan di belakang melakukan dorongan. Sistem among merupakan sistem pendidikan yang diadaptasi dari sistem pendidikan keluarga yang dijiwai rasa wajib, perhatian dan cinta kasih berlandaskan kemerdekaan dan kodrat alam sang anak. Oleh karena itu, konsep sistem among ini dapat diterapkan dalam pendidikan anak usia dini baik di rumah maupun di sekolah, sehingga pembiasaan, nilai, dan pengetahuan yang diperoleh anak saling berkaitan serta berkesinambungan antara di rumah dan sekolah.

Orang tua memperlihatkan perilaku among ketika berjiwa kekeluargaan, bersifat manusiawi, arif dan bijaksana, memperlakukan anak sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya, menempatkan anak sebagai subjek dan objek dalam proses pendidikan, memperhatikan kodrati anak sesuai dengan tahapan perkembangan jiwa raga anak, selalu siap menjadi teladan dalam segala perilaku berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa. Pendapat Ki Suratman diatas menjelaskan bahwa seorang pendidik maupun orangtua harus dapat memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak berdasarkan pada tahap perkembangan anak dan hak anak.

Konsep Dasar Permainan “Tempatkan Aku”

Dalam permainan ini kemampuan kognitif anak dilatih dengan dikenalkan dengan Huruf, Angka, dan Warna. Permainan “Tempatkan Aku” memiliki komponen diantaranya; 1) Papan Permainan. 2) Kartu Pertanyaan. 3) Kartu Reward. 4). Kartu Tantangan. 5) Buku Pedoman Orang Tua. Yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut;

  • 1. Papan Permainan

Berfungsi untuk meletakkan kartu pertanyaan mulai dari angka, hurus, dan warna. Papan di desain semenarik mungkin yang disesuaikan dengan usia anak pra sekolah.

  • 2. Kartu Pertanyaan

Merupakan kartu yang berbentuk seperti angka, huruf, dan warna. Kartu ini nantinya akan menjadi tantangan bagi anak untuk menjawab dengan tepat, semakin banyak ketepatan anak menjawab maka semakin baik pula perkembangan kognitifnya. Kartu pertanyaan ini terbuat dari sponge yang aman bagi anak.

  • 3. Sponge Jawaban

Merupakan sponge berbentuk huruf, angka, dan warna yang digunakan oleh anak dalam menjawab pertanyaan di papan permainan.

  • 4. Kartu Reward

Merupakan kartu yang digunakan orang tua ketika anak berhasil menjawab dengan tepat pertanyaan yang diberikan pada papan permainan. Kartu ini berfungsi untuk memberikan hadiah kepada anak jika menjawab dengan tepat, bisa berupa pelukan hangat dari papa dan mama, ciuman, atau bahkan camilan kesukaan dari anak.

  • 5. Kartu Tantangan

Kartu ini digunakan ketika anak salah atau kurang tepat dalam menjawab. Dalam kartu ini terdapat barcode yang dapat di pindai (scan) dan langsung terhubung dengan youtube. Nantinya anak akan mendapat tantangan yaitu berjoget dan bernyanyi dan orang tua memberikan apresiasi dan dukungan kepada anak.

  • 6. Buku Pedoman Orang Tua

Merupakan buku yang digunakan oleh orang tua dalam menerapkan sistem among kepada anak, dimana orang tua tidak memberi nilai negatif kepada anak ketika anak kurang tepat dalam menjawab, justru sebaliknya orang tua memberikan motivasi dan juga dorongan kepada anak.

Cara Main Permainan “Tempatkan Aku”

Dalam melakukan permainan ini orang tua, ayah berperan sebagai pemegang papan permainan dan juga sebagai Juri yang nantinya akan memberikan kartu reward atau kartu tantangan. Sedangkan ibu berperan sebagai pemandu bagi anak dan bertugas untuk menyusun opsi jawaban dari tertanyaan, misalnya pada papan pertanyaan anak harus menjawab tentang angka 5, 6, dan 7. Ibu menyiapkan sponge angka 0 sampai 9 yang di susun secara acak. Ibu menjelaskan kepada anak bahwa nanti jika menjawab dengan tepat akan mendapatkan hadiah misterius dan ketika jawaban kurang tepat akan  mendapatkan tantangan rahasia. Anak diberi waktu 5 menit untuk menjawab dengan tepat ketika sedang berlangsung baik ayah dan ibu bernyanyi lagu kanak- kanak untuk memberikan semangat kepada anak. Ketika waktu habis ayah akan memberikan kartu sesuai dengan jawaban anak, jika tepat maka akan diberi  hadiah bisa berupa pelukan, ciuman, atau bahkan makanan kesuakaan anak, jika salah ayah akan memberikan kartu tantangan, yang dapat di scan, anak di tantang untuk berjoget bersama ayah dan ibu kurang lebih 2-3 menit. Dan dilanjutkan dengan penjelasan oleh ayah sebagai refleksi bagi anak. Permainan diteruskan secara acak baik dengan angka, huruf atau warna. Permainan dilakukan kurang lebih 45 menit setiap hari, agar anak tidak lupa terkait hal yang telah di pelajari melalui permainan tersebut.

Penutup

Anak memiliki suatu ciri khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak saat konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal inilah yang membedakan anak dari orang dewasa. Pertumbuhan (growth) adalah bertambahnya jumlah dan besarnya kuantitas atau volume sel diseluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur. Perkembangan (development) adalah meningkatnya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui kematangan dan belajar. Dalam banyak kasus perkembangan kognitif anak banyak mengalami permasalahan salah satunya karena faktor orang tua yang kurang memperhatikan pola asuhnya, maka dari itu permainan “Tempatkan Aku” dengan sistem among hadir untuk membantu orang tua dalam mengoptimalkan peran melalui interaksi dengan nilaii nilai kearifan lokal khas nusantara. Dalamimpelmentasinya permainan ini bergantung pada peran orang tua, di desain dengan warna dan bentuk yang unik dan disesuaikan dengan usia anak pra sekolah sehingga akan menarik perhatian anak untuk belajar.

Daftar Rujukan

Hidayat, Aziz Alimul, (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.

Irma, C. N., Nisa, K., & Sururiyah, S. K. (2019). Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini di TK Masyithoh 1 Purworejo. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(1), 214-224.

Putra, E. C. S. (2017). Pelaksanaan Konsep Pendidikan Sistem Among Di Sd Taman Muda Jetis Yogyakarta. Jurnal Inovasi Sekolah Dasar, 4(1).

Saleh, R. F. (2020). Reinterpretasi Tri Pusat Pendidikan. COLLASE (Creative of Learning Students Elementary Education), 3(2), 58-63.

Soetjiningsih, (1996). Tunbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

Utami, Sri, (2009).Bermain Lego Meningkatkan Kognitif Anak Usia Prasekolah (4-5 tahun).

Ners Jornal Jurnal Ners Vol 3.Surabaya: Program Studi Ilmu Keperawatan FKp Unair.

Verdinata, I. (2019). Studi Kasus Permasalahan Perilaku Sosial Anak Di Tinjau Dari Pola Asuh Orang Tua Pada Usia 5-6 Tahun Di Tk Insani Medan Tembung TA 2019/2020 (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Medan).

Lampiran Gambar

Gambar 1. Mock Up Papan Permainan “Tempatkan aku”

Gambar 2. Komponen Permainan

991 – CN9671 – Blauw – Nike Air Max 1 By You Custom herenschoen – nike air max lays blue cheese commercial actor | nike dunk force wedge , Air Jordan 1 Trainers — Ietp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *